Friday, January 30, 2026

Cara pandang

Di angka yang sudah melewati 60 saya merasa cara pandang saya terhadap sesuatu sudah mulai berubah saya sangat merasakan sekali ada perbedaan rasa ketika memandang sesuatu entah itu sebuah keadaan atau sikap lah dari seseorang misalnya saya mulai seperti tidak terlalu tertarik untuk sesuatu yang jika Dulu saya masih muda Mungkin saya akan berpacu berlomba dan Ingin menggapai tapi sekarang saya membiarkan itu lewat tidak terlalu berambisi tidak terlalu punya keinginan untuk apa-apa apakah saya apatis ataukah Inikah gejala penuaan Entahlah saya tidak terlalu paham

Friday, January 2, 2026

selamat tahun baru 2026




Setiap tahun, tanpa pernah absen, pergantian kalender selalu disambut dengan cara yang hampir seragam. Banyak orang memulai tahun baru dengan perayaan—entah itu sederhana di rumah, berkumpul bersama teman, atau pesta besar di ruang publik. Polanya pun nyaris sama: menunggu detik-detik pergantian hari, menghitung mundur menuju pukul 00.00, mengisi waktu dengan makan bersama, bakar-bakaran, ngobrol, bernyanyi, lalu diakhiri dengan petasan dan kembang api yang membelah langit malam.
Semua itu terasa begitu hidup, begitu ramai, dan seolah-olah penting.
Namun, di sisi lain, aku justru sering merasa ada jarak emosional dengan semua perayaan itu.
Bagiku, pergantian tahun tidak benar-benar membawa sesuatu yang berbeda secara nyata. Hari ini dan hari kemarin pada dasarnya sama. Waktu tetap bergerak dalam siklus 24 jam, matahari tetap terbit dan tenggelam pada ritmenya sendiri, dan dunia tidak berubah hanya karena jarum jam melewati angka dua belas di tengah malam. Tidak ada perubahan mendadak yang benar-benar terasa—tidak ada garis batas yang kasat mata antara “tahun lama” dan “tahun baru” selain kesepakatan manusia semata.
Di titik itu, perayaan tahun baru terasa seperti sebuah momen yang dibuat-buat. Sebuah seremonial yang diwariskan dan diulang, bukan karena kita sungguh-sungguh memaknainya, tetapi karena “memang begitulah seharusnya.” Ada semacam kewajiban sosial untuk merayakan, seolah-olah jika tidak ikut menghitung mundur atau menyalakan kembang api, kita akan dianggap aneh, kurang bersyukur, atau tidak ikut arus.
Padahal, jika dipikirkan lebih dalam, makna sejati dari waktu tidak pernah menunggu momen seremonial. Perubahan hidup tidak selalu terjadi di awal Januari. Kesadaran, penyesalan, pertumbuhan, atau harapan baru sering justru muncul di hari-hari biasa—di tengah rutinitas yang sunyi, di pagi yang tampak sama dengan pagi sebelumnya, atau di malam tanpa petasan dan sorak-sorai.
Itulah mengapa perayaan tahun baru, bagiku, terasa sementara. Riuhnya hanya bertahan beberapa jam. Kembang api memudar, sisa sampah tertinggal, suara kembali senyap, dan keesokan paginya hidup berjalan seperti biasa. Orang-orang kembali pada pekerjaan yang sama, masalah yang sama, dan kebiasaan yang sama. Resolusi yang ditulis dengan penuh semangat sering kali hanya bertahan beberapa minggu sebelum dilupakan.
Aku tidak mengatakan bahwa perayaan itu salah. Tidak juga menilai mereka yang menikmatinya. Bagi sebagian orang, mungkin itulah caranya memberi jeda, merayakan kebersamaan, atau sekadar merasa hidup. Namun secara personal, aku kesulitan menemukan sentuhan yang benar-benar sampai ke hati dari semua itu.
Jika makna tahun baru harus dicari, mungkin ia tidak terletak pada dentuman petasan atau hitungan mundur massal, melainkan pada refleksi yang jujur—tentang apa yang sudah dijalani, apa yang belum selesai, dan apa yang ingin diperbaiki. Dan refleksi semacam itu tidak membutuhkan jam 00.00 sebagai pemicu. Ia bisa datang kapan saja.
Pada akhirnya, mungkin tidak semua momen besar harus dirayakan dengan cara besar. Mungkin ada orang-orang yang justru menemukan makna dalam keheningan, dalam tidak merayakan apa pun, dan dalam menerima bahwa waktu berjalan apa adanya—tanpa perlu dipoles dengan seremonial.
Dan tidak apa-apa.
Karena bagi sebagian dari kita, tahun baru bukanlah tentang pesta, tetapi tentang kesadaran bahwa hari ini, seperti hari kemarin, adalah kesempatan yang sama untuk hidup dengan lebih jujur.

Sunday, December 28, 2025

"Menangkap" Matahari terbit





Aku bukan tipe orang yang suka swafoto. Bukan karena tak percaya diri, bukan pula karena menolak teknologi. Alasanku sederhana namun dalam: bagiku, mengabadikan momen tidak selalu berarti mengarahkan kamera ke wajah sendiri. Momen yang indah atau penting justru hidup pada detik ketika kejadian itu tertangkap oleh mata dan dirasa oleh hati—saat napas terasa lebih pelan, pikiran hening, dan perasaan hadir sepenuhnya. Pada saat seperti itu, aku memilih menjadi saksi, bukan subjek.
Aku lebih suka memotret objeknya: cahaya senja yang jatuh miring di antara pepohonan, riak air yang memantulkan langit, wajah orang-orang yang sedang tertawa tanpa sadar kamera, atau detail kecil yang sering luput—tekstur dinding tua, bayangan yang bergerak perlahan, garis awan yang tak pernah sama. Bukan karena aku ingin terlihat "berbeda", melainkan karena bagiku, keindahan itu berdiri sendiri. Ia tak membutuhkan kehadiranku di dalam bingkai untuk menjadi bermakna.
Selfi, dalam banyak situasi, terasa seperti pengalihan fokus. Dari momen ke representasi diri. Dari pengalaman ke pembuktian. Seolah-olah nilai sebuah kejadian baru sah bila ada bukti bahwa "aku ada di sana." Padahal, apa gunanya hadir jika perhatian kita terbelah antara layar dan kenyataan? Aku memilih tidak menjadikan wajahku sebagai penanda kehadiran, karena kehadiran yang sesungguhnya tak selalu perlu diumumkan.
Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika menatap langsung, tanpa perantara lensa. Mata bekerja lebih jujur; hati lebih peka. Saat itu, ingatan terbentuk bukan sebagai arsip visual semata, tetapi sebagai kesan emosional—hangat, tenang, atau takzim. Ingatan semacam ini sering lebih tahan lama daripada foto. Ia kembali hadir bukan saat kita menggulir galeri, melainkan saat aroma, suara, atau cahaya serupa muncul di kemudian hari.
Memotret pemandangan, bagiku, adalah bentuk penghormatan. Aku mengakui bahwa dunia lebih luas dari diriku sendiri. Ada keindahan yang tidak berpusat pada ego, yang layak direkam apa adanya. Kamera menjadi alat untuk mendengarkan, bukan untuk berbicara tentang diri. Dengan cara ini, fotografi menjadi latihan kerendahan hati: membiarkan objek menjadi tokoh utama, bukan aku.
Analisisnya sederhana namun penting. Budaya swafoto sering mendorong validasi eksternal—like, komentar, pengakuan. Tanpa disadari, ini bisa menggeser tujuan mengabadikan momen dari "mengalami" menjadi "menampilkan." Ketika dorongan tampil lebih kuat daripada dorongan hadir, kualitas pengalaman menurun. Kita sibuk mengatur sudut, ekspresi, dan pencahayaan, sementara detik berharga berlalu tanpa sempat dirasakan.
Selain itu, swafoto cenderung mereduksi makna tempat. Banyak lokasi akhirnya terlihat sama: wajah di depan latar. Identitas tempat kalah oleh identitas pribadi. Padahal setiap tempat memiliki cerita, tekstur, dan suasana yang unik. Dengan memotret objeknya—langitnya, jalannya, manusianya—kita memberi ruang bagi cerita itu untuk berbicara.
Ini bukan ajakan untuk membenci swafoto atau menghakimi mereka yang menyukainya. Setiap orang berhak memilih caranya sendiri. Namun mungkin ada baiknya kita bertanya: untuk siapa foto itu dibuat? Untuk dikenang, atau untuk ditonton? Untuk memperdalam pengalaman, atau untuk mempercepatnya lewat unggahan?
Mempengaruhi bukan berarti melarang, melainkan mengajak merenung. Cobalah sesekali meletakkan ponsel. Hadir sepenuhnya. Biarkan mata bekerja tanpa filter. Rasakan momen tanpa jeda. Jika ingin memotret, arahkan kamera ke apa yang membuatmu terdiam—bukan ke dirimu yang sedang berusaha terlihat "di sana." Karena sering kali, makna terbesar lahir ketika kita berhenti menempatkan diri di pusat bingkai.
Pada akhirnya, aku memilih cara ini bukan untuk terlihat sederhana atau anti arus, melainkan karena aku percaya: momen terbaik tidak selalu perlu diumumkan. Cukup disimpan rapi di ingatan, hangat di hati. Dunia tetap indah tanpa harus aku buktikan dengan wajahku di depannya.