Monday, November 27, 2023

Menyambut Pagi

Menikmati pagi “sendirian”, aku menuliskannya dengan tanda kutip karena sebenarnya beliaunya ada di ruang sebelah, di balik pintu tertutup, ditemani AC yang dingin dan sunyi. Kehadirannya dekat, namun pagi ini rasanya tetap milikku seorang. Ada jarak yang tidak kasat mata—bukan jarak perasaan, melainkan cara kami masing-masing menyambut waktu.

Memang tidak sejalan. Di luar, kota kami sedang terpanggang panas, suhu bertahan di angka tiga puluhan derajat. November hampir menutup dirinya, tetapi hujan yang biasanya datang setia di musim ini belum juga benar-benar turun. Langit seperti menahan sesuatu. Sesekali, menjelang subuh, turun gerimis kecil—ringan, ragu-ragu—hanya sekitar lima sampai sepuluh menit, lalu menghilang begitu saja, seakan takut mengganggu.

Pagi pun tetap datang apa adanya: hangat, kering, dan sederhana. Tidak sempurna, tidak sesuai harapan musim, tetapi cukup untuk disyukuri. Aku duduk, menarik napas pelan, membiarkan waktu berjalan tanpa tergesa. Dalam keterbatasan itulah aku belajar lagi—bahwa bersyukur tidak selalu menunggu keadaan ideal. Kadang cukup dengan pagi yang masih bisa kunikmati, meski sendirian, meski sebentar. 🙏

Wednesday, November 22, 2023

Ketika...

Ketika buah mangga hampir menyentuh tanah...ini moment indah, menarik, dan sangat menyenangkan untuk diabadikan....ahaa...cekrek!! Dan inilah hasilnya.....
Excited banget jika suatu saat nanti berkesempatan memetiknya, jarang-jarang lhooo.... 

Wednesday, November 1, 2023

Pohon musimku

Ini penampakan di akhir bulan September 2023. Pohon musimku sedang berada pada fase gugur, bergerak perlahan menuju musim dingin, sebuah siklus yang lazimnya terjadi di wilayah lintang tinggi belahan selatan. Daun-daunnya meredup, sebagian telah jatuh, sebagian lagi bersiap melepaskan diri. Tidak tergesa, tidak melawan waktunya sendiri.

Menariknya, ia tumbuh di daerah tropis, berdampingan dengan tumbuhan tropis lainnya. Lihatlah pohon mangga yang mengapitnya, keduanya berdaun rindang, hijau pekat, bahkan sedang berbuah meski masih kecil-kecil. Kehidupan di sekitarnya riuh dengan tanda kesuburan, sementara pohon musimku memilih jalannya sendiri, setia pada ritme yang ia kenal.

Pohon musimku tidak berada dalam cakupan pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Ia tumbuh di tanah tropis, tetapi mengikuti siklus tumbuhan di daerah empat musim. Bukan karena menolak lingkungan, melainkan karena ia memiliki karakter dan identitas yang kuat. Ia tidak larut, tidak menyesuaikan diri demi seragam, dan tidak kehilangan dirinya sendiri.

Dari situ aku belajar: tidak semua yang hidup harus sama dengan sekitarnya. Ada yang tetap tumbuh dengan caranya sendiri, tenang, konsisten, dan utuh.

Selamat pagi, dunia.




Pohon musimku di 2014

Sejak 2014, aku memantau pohon musim yang berdiri setia di depan rumah, tepat di tepi jalan. Ia bukan sekadar pohon peneduh, melainkan saksi waktu—diam, namun selalu hadir. Tahun demi tahun aku memperhatikannya, seolah kami punya janji tak tertulis untuk saling mengingat.

Foto ini kuambil sekitar bulan November 2014. Saat itu kondisinya sedang bersemi. Daun-daunnya segar, berkilauan saat tersentuh matahari pagi, berpadu cantik dengan langit biru yang dipenuhi awan. Ada rasa lapang setiap kali memandangnya, seperti melihat harapan yang tumbuh tanpa suara.

Itulah catatanku di tahun 2014. Pohon ini adalah pohon ketapang, tetapi aku menamainya “pohon musim”. Ia setia mengikuti siklus seperti di tempat-tempat yang memiliki empat musim—daun tumbuh, menua, gugur, lalu lahir kembali. Dari pohon inilah aku belajar bahwa perubahan tidak selalu harus pergi jauh. Kadang, pelajaran hidup berdiri tepat di depan rumah, menunggu untuk diperhatikan.

Pohon musimku tinggal kenangan



Tanggal: 2 Nov 2023 11.45
Subjek: Pohon musimku tinggal kenangan



Pohon musim ku Tinggal Kenangan tepatnya hari kemarin tanggal 1 November 2023 resmi ditebang bahkan sampai bawah dan tinggal hanya tonggaknya saja kondisinya memang seperti sedang di musim dingin jadi hanya ranting saja jadi seperti pohon yang sudah tua begitu atau Entahlah biasanya November dia sudah bersemi sudah berdaun lagi tapi karena situasi saat ini juga sedang kering kemaraunya agak panjang belum turun hujan juga jadi ya mungkin memang sudah waktunya jadi sekarang pohon musimnya sudah tidak ada pohon kesayanganku pohon kenanganku pohon yang kujadikan sebagai apa ya teman begitu karena aku nggak punya teman temanku satu-satunya adalah apa yang bisa kulihat dan yang bisa kulihat hanyalah ke arah depan dan di arah depan hanya ada pohon-pohon yang menarik diantaranya selain pohon mangga yang saat ini sedang berbuah juga adalah pohon ketapang yang saya menyebutnya sebagai pohon musim karena dia mengikuti siklus dari daerah-daerah yang mengalami 4 musim jadi menjelang musim gugur dia pun gugur daunnya berubah menjadi merah kemudian gugur dan tinggal ranting saja menjelang musim dingin nah posisinya saat ini kemarin saat ditebang adalah tinggal ranting saja.
Memang merasa kehilangan tapi tak bisa berbuat apa-apa jadi kutuliskan saja kenangan di sini dan semoga menjadi kenangan yang baik terima kasih pohon