Sunday, December 28, 2025

"Menangkap" Matahari terbit





Aku bukan tipe orang yang suka swafoto. Bukan karena tak percaya diri, bukan pula karena menolak teknologi. Alasanku sederhana namun dalam: bagiku, mengabadikan momen tidak selalu berarti mengarahkan kamera ke wajah sendiri. Momen yang indah atau penting justru hidup pada detik ketika kejadian itu tertangkap oleh mata dan dirasa oleh hati—saat napas terasa lebih pelan, pikiran hening, dan perasaan hadir sepenuhnya. Pada saat seperti itu, aku memilih menjadi saksi, bukan subjek.
Aku lebih suka memotret objeknya: cahaya senja yang jatuh miring di antara pepohonan, riak air yang memantulkan langit, wajah orang-orang yang sedang tertawa tanpa sadar kamera, atau detail kecil yang sering luput—tekstur dinding tua, bayangan yang bergerak perlahan, garis awan yang tak pernah sama. Bukan karena aku ingin terlihat "berbeda", melainkan karena bagiku, keindahan itu berdiri sendiri. Ia tak membutuhkan kehadiranku di dalam bingkai untuk menjadi bermakna.
Selfi, dalam banyak situasi, terasa seperti pengalihan fokus. Dari momen ke representasi diri. Dari pengalaman ke pembuktian. Seolah-olah nilai sebuah kejadian baru sah bila ada bukti bahwa "aku ada di sana." Padahal, apa gunanya hadir jika perhatian kita terbelah antara layar dan kenyataan? Aku memilih tidak menjadikan wajahku sebagai penanda kehadiran, karena kehadiran yang sesungguhnya tak selalu perlu diumumkan.
Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika menatap langsung, tanpa perantara lensa. Mata bekerja lebih jujur; hati lebih peka. Saat itu, ingatan terbentuk bukan sebagai arsip visual semata, tetapi sebagai kesan emosional—hangat, tenang, atau takzim. Ingatan semacam ini sering lebih tahan lama daripada foto. Ia kembali hadir bukan saat kita menggulir galeri, melainkan saat aroma, suara, atau cahaya serupa muncul di kemudian hari.
Memotret pemandangan, bagiku, adalah bentuk penghormatan. Aku mengakui bahwa dunia lebih luas dari diriku sendiri. Ada keindahan yang tidak berpusat pada ego, yang layak direkam apa adanya. Kamera menjadi alat untuk mendengarkan, bukan untuk berbicara tentang diri. Dengan cara ini, fotografi menjadi latihan kerendahan hati: membiarkan objek menjadi tokoh utama, bukan aku.
Analisisnya sederhana namun penting. Budaya swafoto sering mendorong validasi eksternal—like, komentar, pengakuan. Tanpa disadari, ini bisa menggeser tujuan mengabadikan momen dari "mengalami" menjadi "menampilkan." Ketika dorongan tampil lebih kuat daripada dorongan hadir, kualitas pengalaman menurun. Kita sibuk mengatur sudut, ekspresi, dan pencahayaan, sementara detik berharga berlalu tanpa sempat dirasakan.
Selain itu, swafoto cenderung mereduksi makna tempat. Banyak lokasi akhirnya terlihat sama: wajah di depan latar. Identitas tempat kalah oleh identitas pribadi. Padahal setiap tempat memiliki cerita, tekstur, dan suasana yang unik. Dengan memotret objeknya—langitnya, jalannya, manusianya—kita memberi ruang bagi cerita itu untuk berbicara.
Ini bukan ajakan untuk membenci swafoto atau menghakimi mereka yang menyukainya. Setiap orang berhak memilih caranya sendiri. Namun mungkin ada baiknya kita bertanya: untuk siapa foto itu dibuat? Untuk dikenang, atau untuk ditonton? Untuk memperdalam pengalaman, atau untuk mempercepatnya lewat unggahan?
Mempengaruhi bukan berarti melarang, melainkan mengajak merenung. Cobalah sesekali meletakkan ponsel. Hadir sepenuhnya. Biarkan mata bekerja tanpa filter. Rasakan momen tanpa jeda. Jika ingin memotret, arahkan kamera ke apa yang membuatmu terdiam—bukan ke dirimu yang sedang berusaha terlihat "di sana." Karena sering kali, makna terbesar lahir ketika kita berhenti menempatkan diri di pusat bingkai.
Pada akhirnya, aku memilih cara ini bukan untuk terlihat sederhana atau anti arus, melainkan karena aku percaya: momen terbaik tidak selalu perlu diumumkan. Cukup disimpan rapi di ingatan, hangat di hati. Dunia tetap indah tanpa harus aku buktikan dengan wajahku di depannya.

Saturday, December 27, 2025

Jalan-jalan






Tentang Jalan-Jalan, Healing, dan Aku yang Sering Ikut Tapi Tak Pernah Benar-Benar Ingin.

Wisata, jalan-jalan, keliling-keliling pakai mobil, healing—atau apa pun istilah populernya hari ini—adalah hal yang sering kulakukan, meskipun sejujurnya bukan sesuatu yang benar-benar kuinginkan. Aku tipe orang yang tidak terlalu menyukai wisata, tapi entah mengapa sering berada di dalamnya. Bukan karena dorongan hati, melainkan karena ajakan. Statusnya menemani.

Aku ikut berangkat, duduk di mobil, menempuh jarak, sampai akhirnya tiba di tujuan. Dan di sanalah sering muncul pertanyaan paling jujur yang jarang kuucapkan ke siapa pun:
“Lalu aku harus ngapain sekarang?”

Aku tidak merasa antusias. Tidak juga kecewa. Hanya… kosong. Seperti hadir secara fisik, tapi pikiranku tidak pernah benar-benar sampai.

Padahal dulu, aku bukan orang yang asing dengan lapangan.

Dulu, hidupku sangat akrab dengan alam. Bukan dalam pengertian liburan atau rekreasi, tapi sebagai tuntutan akademis. Sesuai jurusanku, aku harus mengenal alam secara langsung—secara morfologi, geografis, dan geologis. Gunung, pantai, gua, daerah tandus, wilayah minus, hingga pendekatan ke masyarakat bukanlah destinasi wisata, melainkan ruang belajar.

Setiap kali ke lapangan, selalu ada daftar panjang yang harus dipenuhi. Checklist data, materi observasi, panduan wawancara masyarakat. Sampai di lokasi bukan untuk bingung mau ngapain, tapi justru sibuk sejak langkah pertama. Waktu terasa sempit karena tujuan jelas. Alam bukan untuk dinikmati, tapi dipahami.

Mungkin dari situlah aku belajar satu hal:
aku tidak pernah terbiasa datang ke suatu tempat tanpa tujuan.

Lalu hidup bergerak. Aku berpindah fase.
Aku tidak lagi ke lapangan, tapi ke belakang meja. Bekerja di kantor, di bidang yang berbeda. Hingga akhirnya, aku menjadi orang rumahan. Kantorku kini di rumah. Peranku bertambah sebagai ibu rumah tangga. Lingkaran sosial menyempit, nyaris tak ada aktivitas bersosialisasi di luar keperluan.

Anehnya, aku tidak pernah merasa jenuh.

Aku tidak merasa perlu “healing” seperti yang sering dibicarakan orang. Tidak ada kelelahan mental yang harus dilarikan ke tempat wisata. Tidak ada kejenuhan yang harus ditebus dengan pemandangan baru. Mungkin karena ritme hidupku sudah cukup penuh—tenang, tapi bermakna.
Rekreasiku bukan bepergian.

Rekreasiku adalah saat aku punya waktu sendiri. Me time dalam pengertianku bukan keluar rumah, tapi masuk ke dunia kecil yang kuciptakan sendiri. Dunia yang memberiku ruang untuk berpikir, merasakan, dan berkreasi tanpa tuntutan siapa pun.

Saat ini, bentuk rekreasi yang paling mungkin dan paling kucintai adalah menjahit. Lebih spesifik lagi: berkreasi dengan kain perca, membuat aneka produk patchwork.

Aku memiliki sangat banyak kain perca—limbah dari usahaku membuat batik. Batik yang kudesain sendiri. Kain yang kujual. Pakaian yang kujahit dengan tanganku sendiri. Dalam proses itu, selalu ada sisa. Potongan-potongan kecil yang sering dianggap tak lagi berguna.

Dan di sanalah aku menemukan kepuasan yang tidak pernah kutemukan dalam bepergian atau wisata.

Mengolah limbah menjadi karya baru. Menyatukan potongan-potongan kecil menjadi satu kesatuan yang utuh. Ada proses berpikir, memilih warna, menyusun komposisi, mengukur, menjahit, membongkar ulang, lalu menjahit lagi. Semua dilakukan perlahan, tanpa hiruk-pikuk, tanpa tuntutan untuk “menikmati”.

Aku merasa hidup.

Mungkin bagiku, healing bukan tentang pergi jauh, tapi tentang pulang ke diri sendiri. Duduk, fokus, tenggelam dalam proses. Tidak perlu pemandangan indah, cukup meja kerja kecil, mesin jahit, dan kain perca yang menunggu diolah.

Kini aku seperti ingin menyempurnakan perjalananku sendiri. Dari mendesain batik, menjual kain, menjahit pakaian jadi, hingga mengolah limbahnya menjadi karya baru yang bernilai jual—berbasis seni patchwork. Sebuah siklus yang utuh. Tidak ada yang terbuang. Tidak ada yang sia-sia.

Dan mungkin itu juga cerminan hidupku.

Aku memang sering ikut jalan-jalan. Tapi jujur saja, aku tidak pernah benar-benar mencarinya. Yang kucari adalah makna, tujuan, dan proses. Dan semua itu justru kutemukan di rumah, di balik mesin jahit, di antara potongan kain perca yang kecil—namun penuh cerita. ***Kp-27 Des 2025

Friday, December 5, 2025

otw

Puluhan kali kami sengaja berkendara sekedar jalan dengan tujuan finish nya adalah datang melintas lalu putar balik di ruas jalan ini. yag termasuk jalan baru hasil membelah gunung .
jarak yg ditempuh dari titil awal terhitung dari carport di rumah kurang lebih sekitar 2 jam sekali jalan atau 4 jam pulang pergi. tentu ini kategori niat banget untuk sekedar jalan biasa. 
bayangkan berjalan 4 jam pp tanpa tujuan yang jelas, hanya untuk putar balik sampai di ruas jalan ini.
aku sendiri kadang jenuh dengan jarak yang lamaa tanpa bisa beraktifitas lainnya kecuali makan,minum, scroll hp, atau tidur di jok belakang. saking seringnya sampai aku tak bisa lagi menikmati perjalanannya. aku juga tak bisa komen apapun karena akan ditafsirkan sbg keberatan dst yang itu akan mmbuatnya kecewa...bahkan bisa sampai berhari-hari.
puluhan kali juga kusarankan untuk jalan sendiri tanpaku, tapi katanya tidak bisa, padahal sepanjang jalan pun tidak terlalu terlibat obrolan yang inten dan asyik. ia tenggelam dengan music yang bukan seleraku, aku tak ada jatah lain selama membersamai kecuali janya seperti yang telah kusebutkan di atas tadi.
seperti saat ini....