Tentang Jalan-Jalan, Healing, dan Aku yang Sering Ikut Tapi Tak Pernah Benar-Benar Ingin.
Wisata, jalan-jalan, keliling-keliling pakai mobil, healing—atau apa pun istilah populernya hari ini—adalah hal yang sering kulakukan, meskipun sejujurnya bukan sesuatu yang benar-benar kuinginkan. Aku tipe orang yang tidak terlalu menyukai wisata, tapi entah mengapa sering berada di dalamnya. Bukan karena dorongan hati, melainkan karena ajakan. Statusnya menemani.
Aku ikut berangkat, duduk di mobil, menempuh jarak, sampai akhirnya tiba di tujuan. Dan di sanalah sering muncul pertanyaan paling jujur yang jarang kuucapkan ke siapa pun:
“Lalu aku harus ngapain sekarang?”
Aku tidak merasa antusias. Tidak juga kecewa. Hanya… kosong. Seperti hadir secara fisik, tapi pikiranku tidak pernah benar-benar sampai.
Padahal dulu, aku bukan orang yang asing dengan lapangan.
Dulu, hidupku sangat akrab dengan alam. Bukan dalam pengertian liburan atau rekreasi, tapi sebagai tuntutan akademis. Sesuai jurusanku, aku harus mengenal alam secara langsung—secara morfologi, geografis, dan geologis. Gunung, pantai, gua, daerah tandus, wilayah minus, hingga pendekatan ke masyarakat bukanlah destinasi wisata, melainkan ruang belajar.
Setiap kali ke lapangan, selalu ada daftar panjang yang harus dipenuhi. Checklist data, materi observasi, panduan wawancara masyarakat. Sampai di lokasi bukan untuk bingung mau ngapain, tapi justru sibuk sejak langkah pertama. Waktu terasa sempit karena tujuan jelas. Alam bukan untuk dinikmati, tapi dipahami.
Mungkin dari situlah aku belajar satu hal:
aku tidak pernah terbiasa datang ke suatu tempat tanpa tujuan.
Lalu hidup bergerak. Aku berpindah fase.
Aku tidak lagi ke lapangan, tapi ke belakang meja. Bekerja di kantor, di bidang yang berbeda. Hingga akhirnya, aku menjadi orang rumahan. Kantorku kini di rumah. Peranku bertambah sebagai ibu rumah tangga. Lingkaran sosial menyempit, nyaris tak ada aktivitas bersosialisasi di luar keperluan.
Anehnya, aku tidak pernah merasa jenuh.
Aku tidak merasa perlu “healing” seperti yang sering dibicarakan orang. Tidak ada kelelahan mental yang harus dilarikan ke tempat wisata. Tidak ada kejenuhan yang harus ditebus dengan pemandangan baru. Mungkin karena ritme hidupku sudah cukup penuh—tenang, tapi bermakna.
Rekreasiku bukan bepergian.
Rekreasiku adalah saat aku punya waktu sendiri. Me time dalam pengertianku bukan keluar rumah, tapi masuk ke dunia kecil yang kuciptakan sendiri. Dunia yang memberiku ruang untuk berpikir, merasakan, dan berkreasi tanpa tuntutan siapa pun.
Saat ini, bentuk rekreasi yang paling mungkin dan paling kucintai adalah menjahit. Lebih spesifik lagi: berkreasi dengan kain perca, membuat aneka produk patchwork.
Aku memiliki sangat banyak kain perca—limbah dari usahaku membuat batik. Batik yang kudesain sendiri. Kain yang kujual. Pakaian yang kujahit dengan tanganku sendiri. Dalam proses itu, selalu ada sisa. Potongan-potongan kecil yang sering dianggap tak lagi berguna.
Dan di sanalah aku menemukan kepuasan yang tidak pernah kutemukan dalam bepergian atau wisata.
Mengolah limbah menjadi karya baru. Menyatukan potongan-potongan kecil menjadi satu kesatuan yang utuh. Ada proses berpikir, memilih warna, menyusun komposisi, mengukur, menjahit, membongkar ulang, lalu menjahit lagi. Semua dilakukan perlahan, tanpa hiruk-pikuk, tanpa tuntutan untuk “menikmati”.
Aku merasa hidup.
Mungkin bagiku, healing bukan tentang pergi jauh, tapi tentang pulang ke diri sendiri. Duduk, fokus, tenggelam dalam proses. Tidak perlu pemandangan indah, cukup meja kerja kecil, mesin jahit, dan kain perca yang menunggu diolah.
Kini aku seperti ingin menyempurnakan perjalananku sendiri. Dari mendesain batik, menjual kain, menjahit pakaian jadi, hingga mengolah limbahnya menjadi karya baru yang bernilai jual—berbasis seni patchwork. Sebuah siklus yang utuh. Tidak ada yang terbuang. Tidak ada yang sia-sia.
Dan mungkin itu juga cerminan hidupku.
Aku memang sering ikut jalan-jalan. Tapi jujur saja, aku tidak pernah benar-benar mencarinya. Yang kucari adalah makna, tujuan, dan proses. Dan semua itu justru kutemukan di rumah, di balik mesin jahit, di antara potongan kain perca yang kecil—namun penuh cerita. ***Kp-27 Des 2025

No comments:
Post a Comment