Thursday, September 3, 2026

akhir Agustis di Jih

mode "ngukruk' ON, alias batuk beruntun apalagi malam hari..nyaris tanpa jeda sampai pagi.
akhirnya mau gak mau ke JIH.

Friday, August 28, 2026

Lagan

Saya mau mengevaluasi tentang acara kemarin yang baru saja kita laksanakan dan Alhamdulillah selesai dengan baik dan lancar Meskipun begitu menyusahkan beberapa catatan yang mungkin untuk kita pelajari dan semoga kalau ada acara lagi yang sejenis ini di ke depan kita menjadikan ini pelajaran supaya tidak terulang kembali 
1 kita merencanakan menu dah dari jauh hari dan sampai hari h-nya sepertinya persiapan kurang matang karena semuanya berjalan hanya di hari itu untuk persiapan masak jadi ke pasar pagi-pagi hari itu semuanya ada dan baru dimasak,
2. Yang kedua karena menjelang acara untuk besok ketika kami sebagai yang punya memfollow up  dan mengecek persiapan tentang siapa yang akan bekerja dan sudah sejauh mana persiapan yang dilakukan Ternyata banyak hal mendadak yang terjadi diantaranya ada satu personil yang tidak bisa ikut bekerja karena kebetulan di tempatnya sendiri juga sedang ada acara masak-masak akhirnya agak kalang kabut Pada malam harinya Kita harus mencari 2 personil pengganti Kenapa dua karena dua-duanya adalah orang terdekat yang potensial yang Ya sudah kami memutuskan pokoknya dua-duanya ikut duit jadi satu orang mundur tapi kita ganti dengan dua orang yang lain lalu ketika kami mengecek persiapan belanja ternyata belum ada sudah ngecek persiapan yang bahan baku tapi tidak menunggu belanja pun juga semuanya belum siap dan semuanya baru ada di malam hari oke sampai pagi hari kita mulai berdatangan menunggu yang dari pasar pulang saya kebagian mengupas bawang putih kakak saya mengupas bawang merah adik saya agak kurang enak badan jadi dia istirahat tidur ketika yang datang yang dari pasar baru lah semuanya mulai dikeroyok pekerjaannya nah ada beberapa menu yang agak berbeda dari ekspektasi kita kita udah jauh-jauh hari pesen dengan membayangkan Seperti apa nanti hasilnya enaknya karena itu makanan-makanan nostalgia yang kita pesan makanan yang bukan sehari-hari buat kita dan agak sulit kalau didapatkan sehari-hari maka kami memandangnya itu sebagai suatu keistimewaan ternyata pas pelaksanaannya ada beberapa hal yang kami kurang cocok sesungguhnya kita komplain tapi cara kita komplain itu mungkin terlalu halus sehingga dijawab dengan kakaknya ya udah terlanjur atau Ya udah nggak apa-apa Oke kami hanya manut saja ya gimana kami nggak seperti apa ya mereka berjalan sendiri begitulah tidak mengikuti arahan kami lagi akhirnya Setelah matang baru kami bisa Apakah sesuai ekspektasi atau tidak Dan ternyata memang tidak seperti yang diharapkan salah satunya makanan andalan yaitu pelasu urang atau pelas udang idealnya ini dibuat dengan Kenapa parut yang masih muda dan udang kupas yang dicincang kasar. Tapi yang terjadi rupanya yang membuat bumbu menggunakan mode irit udangnya masih ada kulitnya dan kepalanya masuk Padahal kita ingin yang premium di mana udangnya bersih tidak ada kepala tidak ada kulit lalu dicincang kasar agak ada yang halus gitu lalu di bagian bumbu seharusnya tidak menggunakan kunyit hanya bumbu ringan gitu Eh ini pakai kunyit dan cukup banyak pula sehingga terlalu berasa Dan ini menjadi tidak natural gitu tidak seperti rasa yang kita bayangkan kita udah komplain belum di jadikan ketika masih dalam persiapan bumbu kita udah komplain bahwa tidak pakai kunyit tapi dianya ngeyel Biarin aja ini udah terlanjur katanya bahasa itu kami tidak bisa mentolerir tapi juga tidak bisa bertindak pegas gitu akhirnya ya kami agak kecewa dengan hasilnya satu itu yang kedua ada masakan sambal goreng kentang kami inginnya yang premium kelasnya tentang full syukur-syukur dicampur ada hati atau apa gitu Eh ini dicampurnya dengan wortel sesuatu yang tidak lazim buat kita kita mempertanyakan enggak usah pakai tapi setelah jadi tetap pakai ternyata ya dua pohon itu karena agak kecewa itulah catatan dari acara masak di haul 2 tahunnya ibu

Friday, July 31, 2026

Sampai disini lagi

Kurang 2 menit lagi nyampe disini lagi...suatu titik/tempat yang pernah kutulis sebelumnya, sejak itu baru sekarang ini sampai disini lagi. 
Sama dengan catatan sebelumnya, perjalanan ini disengaja dan nyampai di titik itu langsung putar balik, dan catatan ini kubuat dalam perjalanan pulang.
Sulit dimengerti apalagi dipahami, ya sudahlah...yang penting perasaannya lega, semoga beneran menjadi lebih baik...
Aamiin 🤲

Friday, July 10, 2026

Saya baru saja melihat tayangan video tentang apa ya istilahnya mungkin semacam "Deep motivation" atau motivasi yang berbasis pada kedalaman rasa, cara berpikir dan memandang sesuatu untuk mencapai apa yang diinginkan, kira-kira seperti itulah definisi yang saya buat sebagai gambaran umumnya. saya merasa bukan baru mengetahui tentang hal itu tapi Sesungguhnya saya sudah menjalankannya sejak lamaa dan benar terbukti, bahwa hidup saya akhirnya nyampe pada posisi seperti yang saya bayangkan. Alhamdulillah.
Ketika penutur dalam video itu menyarankan untuk menulisnya menjadi jurnal, saya juga membenarkan.  Ya, saya pun menjalankannya seperti itu tanpa tahu dasar keilmuannya, dan ya, saya memang membuatnya menjadi jurnal pribadi. 
Jadi saya berpikir bahwa sesungguhnya saya sudah terbimbing dalam perjalanan saya saya bergerak dengan alur yang sesuai dengan hal-hal seperti itu, tapi saya belum menyadarinya bahkan sampai hari ini saya baru saja mengetahui bahwa itu adalah "ilmu" . 
Namun dalam hal ini saya agak sedikit berbeda pendapat, bahwa hal itu bisa benar-benar dianggap sebagai metodologi, karena itu adalah hal yang tidak bisa disengaja, saya merasa hal2 seperti itu tumbuh asli dari hati, dari kedalaman batin, kedalaman rasa, kedalaman berpikir dan bertindak tentunya. 
Mungkin saja itu sebuah ilmu yang bisa dipelajari, atau semacam metodologi baru yang bisa diterapkan secara Sengaja. Point nya adalah bahwa saya lalu berpikir jika demikian, Sepertinya saya perlu melanjutkan catatan jurnal saya yang berisi lebih dalam. 
ya saya merasa akan memulai menghidupkan kembali jurnal ini ya jurnal Seperti yang saya maksud itu meskipun jangka waktu untuk pencapaian saya itu tidak lagi sejauh dulu tidak seluas dulu jangkauannya ya Saya menyadari saya sudah berada di fase lansia Namun demikian pikiran dan ini saya cara pandang saya masih terus berjalan dan saya merasa masih sama saja dengan dulu jadi saya merasa mungkin ini benar dan saya ingin lebih bahasa Jawanya lebih niteni Saya berharap saya masih bisa menempuh jalan ini Terima kasih ya Allah terima kasih sudah saya terbimbing dalam pikiran hati ucapan tindakan dan konsep-konsep saya terima kasih ya Allah alhamdulillah alhamdulillah

Sunday, February 8, 2026

penyuka senja tapi selalu dapat sunrise

Aku termasuk penyuka senja tapi belakangan ini malah sangat jarang bisa menikmati dengan caraku. Justru aku lebih sering menangkap matahari terbit.
Begitulah...apa yang kita sukai kadang yang diperoleh justru kebalikannya, ya sudah..dinikmati saja. 

Friday, January 30, 2026

Cara pandang

Di angka yang sudah melewati 60 saya merasa cara pandang saya terhadap sesuatu sudah mulai berubah saya sangat merasakan sekali ada perbedaan rasa ketika memandang sesuatu entah itu sebuah keadaan atau sikap lah dari seseorang misalnya saya mulai seperti tidak terlalu tertarik untuk sesuatu yang jika Dulu saya masih muda Mungkin saya akan berpacu berlomba dan Ingin menggapai tapi sekarang saya membiarkan itu lewat tidak terlalu berambisi tidak terlalu punya keinginan untuk apa-apa apakah saya apatis ataukah Inikah gejala penuaan Entahlah saya tidak terlalu paham

Friday, January 2, 2026

selamat tahun baru 2026




Setiap tahun, tanpa pernah absen, pergantian kalender selalu disambut dengan cara yang hampir seragam. Banyak orang memulai tahun baru dengan perayaan—entah itu sederhana di rumah, berkumpul bersama teman, atau pesta besar di ruang publik. Polanya pun nyaris sama: menunggu detik-detik pergantian hari, menghitung mundur menuju pukul 00.00, mengisi waktu dengan makan bersama, bakar-bakaran, ngobrol, bernyanyi, lalu diakhiri dengan petasan dan kembang api yang membelah langit malam.
Semua itu terasa begitu hidup, begitu ramai, dan seolah-olah penting.
Namun, di sisi lain, aku justru sering merasa ada jarak emosional dengan semua perayaan itu.
Bagiku, pergantian tahun tidak benar-benar membawa sesuatu yang berbeda secara nyata. Hari ini dan hari kemarin pada dasarnya sama. Waktu tetap bergerak dalam siklus 24 jam, matahari tetap terbit dan tenggelam pada ritmenya sendiri, dan dunia tidak berubah hanya karena jarum jam melewati angka dua belas di tengah malam. Tidak ada perubahan mendadak yang benar-benar terasa—tidak ada garis batas yang kasat mata antara “tahun lama” dan “tahun baru” selain kesepakatan manusia semata.
Di titik itu, perayaan tahun baru terasa seperti sebuah momen yang dibuat-buat. Sebuah seremonial yang diwariskan dan diulang, bukan karena kita sungguh-sungguh memaknainya, tetapi karena “memang begitulah seharusnya.” Ada semacam kewajiban sosial untuk merayakan, seolah-olah jika tidak ikut menghitung mundur atau menyalakan kembang api, kita akan dianggap aneh, kurang bersyukur, atau tidak ikut arus.
Padahal, jika dipikirkan lebih dalam, makna sejati dari waktu tidak pernah menunggu momen seremonial. Perubahan hidup tidak selalu terjadi di awal Januari. Kesadaran, penyesalan, pertumbuhan, atau harapan baru sering justru muncul di hari-hari biasa—di tengah rutinitas yang sunyi, di pagi yang tampak sama dengan pagi sebelumnya, atau di malam tanpa petasan dan sorak-sorai.
Itulah mengapa perayaan tahun baru, bagiku, terasa sementara. Riuhnya hanya bertahan beberapa jam. Kembang api memudar, sisa sampah tertinggal, suara kembali senyap, dan keesokan paginya hidup berjalan seperti biasa. Orang-orang kembali pada pekerjaan yang sama, masalah yang sama, dan kebiasaan yang sama. Resolusi yang ditulis dengan penuh semangat sering kali hanya bertahan beberapa minggu sebelum dilupakan.
Aku tidak mengatakan bahwa perayaan itu salah. Tidak juga menilai mereka yang menikmatinya. Bagi sebagian orang, mungkin itulah caranya memberi jeda, merayakan kebersamaan, atau sekadar merasa hidup. Namun secara personal, aku kesulitan menemukan sentuhan yang benar-benar sampai ke hati dari semua itu.
Jika makna tahun baru harus dicari, mungkin ia tidak terletak pada dentuman petasan atau hitungan mundur massal, melainkan pada refleksi yang jujur—tentang apa yang sudah dijalani, apa yang belum selesai, dan apa yang ingin diperbaiki. Dan refleksi semacam itu tidak membutuhkan jam 00.00 sebagai pemicu. Ia bisa datang kapan saja.
Pada akhirnya, mungkin tidak semua momen besar harus dirayakan dengan cara besar. Mungkin ada orang-orang yang justru menemukan makna dalam keheningan, dalam tidak merayakan apa pun, dan dalam menerima bahwa waktu berjalan apa adanya—tanpa perlu dipoles dengan seremonial.
Dan tidak apa-apa.
Karena bagi sebagian dari kita, tahun baru bukanlah tentang pesta, tetapi tentang kesadaran bahwa hari ini, seperti hari kemarin, adalah kesempatan yang sama untuk hidup dengan lebih jujur.