selanjutnya yang hari ini membuat kami merasa tidak enak tidak sreg tidak pas adalah bahwa semua langkah yang kami lakukan dianggap tidak ada, dianggap tidak terpakai, dianggap tidak legal, oleh istri adik kami ke-4.
apa yang sudah kami lakukan yaitu, kakak 1 dari Bandung pergi ke lokasi di Jawa Tengah, Saya dari DIY pergi ke Jawa Barat dalam hal ini ke Cirebon, kemudian adik ke3 yang di Cirebon yang membantu menemani dan bersama-sama kita berkeliling mengunjungi adik-adik sepupu kami di Cirebon.
Point nya dari tulisan ini adalah bahwa semua kerja itu dianggap tidak ada !!
kadang saya berpikir dalam hal ini siapa yang terzalimi, dalam hal ini siapa yang terluka, dalam hal ini siapa menghinakan siapa, siapa merendahkan siapa, sehingga ada rasa mengganjal di hati, seperti rasa marah yang tidak bisa dilampiaskan, rasa kecewa yang tidak bisa disampaikan, dan rasa jengkel yang tidak bisa dikomunikasikan, karena adik kami satu-satunya yang laki-laki seolah-olah menjadi sandera dalam kasus ini, mau nggak mau dia harus mengikuti istrinya dan mengalahkan kami semua, padahal ini adalah urusan kita di mana istrinya seharusnya tidak ikut serta, tidak ikut campur, tapi ya sudahlah... itu urusan mereka sistem yang mereka jalankan saya pun tidak tahu, kita berempat hanya polos dalam berkomunikasi dengan hati nurani sebagai saudara sekandung yang terikat dalam satu tali silaturahmi yang erat, siapapun tidak bisa mengacak-acak hubungan kami, tapi satu hal adik ipar saya yang satu ini sulit untuk tidak dikatakan terlalu membuat kita makan hati, bukan hanya kita saudara-saudara tapi dari zaman dulu dari ketika almarhum bunda masih ada, ya bunda terlalu menahan hati terhadapnya karena khawatir anak laki-lakinya tersakiti, sehingga mengalah dan selalu mengalah. ya Allah kenapa seperti ini ? muliakanlah kami... ibu bapak mohon keberkahan kalian untuk memuliakan kami, simbah-simbah kangkung Putri pendahulu kami sebagai yang pemilik pertama dan hasil karya mereka, kami adalah anak cucu keturunan kalian, semoga keberkahan kalian memudahkan semua urusan kami sehingga tidak ada yang terzalimi tidak ada yang tersakiti, kami menanti keadilan karena kami tidak bisa berjuang sendirian, tidak bisa berkata-kata, tidak bisa protes, tidak bisa berkata jujur apa adanya, semuanya seperti didominasi, jika kami melanggar kasihan adik kami yang akan mendapatkan resikonya dia terancam padahal dia kepala rumah tangga, dialah penghidup keluarganya yang bekerja jauh kemana-mana setiap hari tapi dia seolah-olah tak dihargai, kami semua seolah-olah juga tidak dihargai, dia selalu merasa yang paling benar, kami tidak tahu rasa apa yang ada ini, kami hanya kecewa kenapa langkah yang kami tempuh sudah berada di jalur yang benar sesuai prosedur tapi tetap dianggap ilegal tidak dipakai dan lalu diputus begitu saja di cancel.