Sejak 2014, aku memantau pohon musim yang berdiri setia di depan rumah, tepat di tepi jalan. Ia bukan sekadar pohon peneduh, melainkan saksi waktu—diam, namun selalu hadir. Tahun demi tahun aku memperhatikannya, seolah kami punya janji tak tertulis untuk saling mengingat.
Foto ini kuambil sekitar bulan November 2014. Saat itu kondisinya sedang bersemi. Daun-daunnya segar, berkilauan saat tersentuh matahari pagi, berpadu cantik dengan langit biru yang dipenuhi awan. Ada rasa lapang setiap kali memandangnya, seperti melihat harapan yang tumbuh tanpa suara.
Itulah catatanku di tahun 2014. Pohon ini adalah pohon ketapang, tetapi aku menamainya “pohon musim”. Ia setia mengikuti siklus seperti di tempat-tempat yang memiliki empat musim—daun tumbuh, menua, gugur, lalu lahir kembali. Dari pohon inilah aku belajar bahwa perubahan tidak selalu harus pergi jauh. Kadang, pelajaran hidup berdiri tepat di depan rumah, menunggu untuk diperhatikan.
No comments:
Post a Comment