Monday, November 27, 2023

Menyambut Pagi

Menikmati pagi “sendirian”, aku menuliskannya dengan tanda kutip karena sebenarnya beliaunya ada di ruang sebelah, di balik pintu tertutup, ditemani AC yang dingin dan sunyi. Kehadirannya dekat, namun pagi ini rasanya tetap milikku seorang. Ada jarak yang tidak kasat mata—bukan jarak perasaan, melainkan cara kami masing-masing menyambut waktu.

Memang tidak sejalan. Di luar, kota kami sedang terpanggang panas, suhu bertahan di angka tiga puluhan derajat. November hampir menutup dirinya, tetapi hujan yang biasanya datang setia di musim ini belum juga benar-benar turun. Langit seperti menahan sesuatu. Sesekali, menjelang subuh, turun gerimis kecil—ringan, ragu-ragu—hanya sekitar lima sampai sepuluh menit, lalu menghilang begitu saja, seakan takut mengganggu.

Pagi pun tetap datang apa adanya: hangat, kering, dan sederhana. Tidak sempurna, tidak sesuai harapan musim, tetapi cukup untuk disyukuri. Aku duduk, menarik napas pelan, membiarkan waktu berjalan tanpa tergesa. Dalam keterbatasan itulah aku belajar lagi—bahwa bersyukur tidak selalu menunggu keadaan ideal. Kadang cukup dengan pagi yang masih bisa kunikmati, meski sendirian, meski sebentar. 🙏

No comments:

Post a Comment