Wednesday, September 20, 2023

Mengawali hari...


Mengawali hari, aku mungkin lebih dikenal sebagai morning person. Tubuhku seolah memiliki jam sendiri—jam yang tidak menunggu matahari terbit. Aku terbiasa bangun jauh sebelum subuh, bahkan tak jarang, begitu hari baru lewat pukul 00.00, mataku sudah terbuka. Bukan karena gelisah, melainkan karena pikiran sudah lebih dulu terjaga. Saat itu, tidur seperti pilihan yang tertinggal di hari kemarin. Aku mencoba memejamkan mata lagi, tapi ide-ide sudah mengetuk, dan akhirnya aku menyerah: bangkit, lalu meluncur ke office kecilku di kamar sebelah.

Pagi-pagi bagiku adalah ruang paling jujur. Sunyi, bersih, dan belum disentuh distraksi. Di kepala, daftar keinginan berbaris rapi sekaligus riuh. Ada begitu banyak hal yang ingin kulakukan—menulis di depan komputer, duduk di meja mesin jahit menuntaskan potongan kain yang semalam terlintas di benak, mengecek ponsel untuk memastikan dunia luar baik-baik saja, atau sekadar ke dapur menyiapkan sarapan sambil membiarkan air mendidih menemani pikiranku yang juga mulai memanas.

Di momen itu, semangat datang penuh, hampir berlebihan. Semuanya terasa penting, semuanya terasa mendesak. Aku berdiri di ambang pilihan kecil yang sebenarnya besar: memulai dari mana? Karena apa pun yang kupilih pertama kali, akan menentukan irama hariku. Kadang aku tersenyum sendiri, menyadari betapa padatnya jadwal yang bahkan belum sempat kutulis. Pagi-pagi, sebelum matahari benar-benar hadir, kepalaku sudah terasa crowded—bukan oleh beban, tapi oleh gairah untuk mencipta, mengerjakan, dan menyalakan hari dengan caraku sendiri.