Wednesday, December 11, 2024

Pagi

Aku tidak selalu memiliki pagi.
Dan mungkin karena itulah pagi menjadi begitu berharga bagiku.

Setiap kali aku bisa mencapainya, ada perasaan yang sulit dijelaskan: senang, bahagia, tenteram, dan diam-diam penuh harapan. Pagi ini aku memilikinya. Sejak selepas subuh hingga detik ini, dengan aman, kubuka pintu lebar-lebar. Udara masuk tanpa tergesa, cahaya merayap pelan, dan entah bagaimana aku merasa lebih dekat—lebih menyatu—dengan Allah.

Sebenarnya keinginanku sangat sederhana.
Hanya itu.
Namun kenyataannya, ia terasa begitu sulit diraih.

Ada masa-masa ketika aku merasa terkurung rapi. Bahkan untuk keluar pun harus ada pembatas—atas nama privasi, atas nama perlindungan, atas nama menjaga dari pandangan luar. Semua tampak wajar, masuk akal, bahkan niatnya baik. Tapi di saat yang sama, aku justru merasa kehilangan sesuatu yang paling kubutuhkan.

Aku rindu pandangan yang terang benderang.
Rindu ruang yang luas, jarak pandang yang panjang, seperti dulu-dulu. Kini terlalu banyak hal yang menghalangi—sebagian alami, sebagian sengaja dibuat. Katanya untuk melindungiku. Mungkin benar. Tapi di balik perlindungan itu, ada bagian dari diriku yang tetap ingin melihat jauh, bernapas lega, dan merasa utuh.

Dan pagi, ketika ia datang, menjadi satu-satunya celah.
Tempat aku bisa berdiri diam, membuka diri perlahan, dan bersyukur—karena untuk sesaat, aku masih diizinkan merasakan luasnya hidup, bersama Allah, tanpa sekat.





Friday, November 8, 2024

Sehat itu mahal


Sehat itu mahal.

Kalimat itu dulu sering terdengar seperti nasihat klise, sampai akhirnya aku benar-benar merasakannya sendiri. Sekali datang ke UGD—hanya cek tensi dan obat—empat ratus ribu melayang. Pulang ke rumah, obat diminum, tapi tubuh belum juga memberi tanda membaik. Obat pun berhenti, bukan karena sembuh, tapi karena tak terasa dampaknya.

Dua hari kemudian aku kembali ke UGD. Kali ini lebih lengkap: tensi, cek darah, jantung, infus. Hasil laboratorium keluar, lalu datang rekomendasi yang membuat dada makin sesak—rawat inap, diperkirakan dua hari. Kamar yang tersedia kelas VVIP B, enam ratus lima puluh ribu per malam. Pelayanannya baik, sangat baik. Tapi sebagai pasien pribadi, tanpa asuransi, tanpa penanggung apa pun, satu hari satu malam saja sudah cukup membuat hati bergetar.

Dan benar saja.
Diputuskan keluar dengan status APS. Untuk dua puluh empat jam perawatan, enam juta rupiah harus dibayar. Angka yang terasa nyata, dingin, dan menohok—sekaligus mengajarkan banyak hal dalam waktu singkat.

Mau mengeluh? Rasanya basi.
Aku tahu betul pilihanku. Aku bukan penganut asuransi, dan memang tak ada siapa pun yang menanggung. Ini bukan tentang menyalahkan keadaan, juga bukan tentang menuntut siapa-siapa. Ini tentang menerima—bahwa sehat adalah nikmat yang sering diremehkan, sampai ia diambil sebentar saja.

Pada akhirnya aku hanya bisa bersandar pada satu hal:
semuanya karena Allah SWT.
Sehatkan aku, ya Rabb. 🙏



Tuesday, October 8, 2024

40

 menuju hari ke40, ada harapan tersimpan dalam hati...ingin melepaskan rindu dengan saudara saudara yang selama ini "terpisah" bukan hanya oleh jarak namun juga karena "sesuatu". Meskipun tak perlu dibahas dan dikupas, kita masing2 sudah paham dan bisa membawa diri dalam posisi kita sebagai serahim, bisa sejalan dan tidak bertentangan, alhamdulillah.

Tapi...ada beberapa sebab karena beberapa faktor yang membuat renvcana kita  untuk bertemu dan bersama sejenak kelihatannya tak bakal bisa terwujud, aku kecewa dan sangat kecewa selkkali, tapi aku berusaha faham bahwa ini semua adalah keniscahyaan bahwa pada akhirnya kita ....sendirian !!

Meskipun aku sudah mengantisipasi sejak jauh-jauh hari dan berusaha tidak memiliki harapan apa-apa selain hanya melaksanakannya saja, menguatkan mental dan hati sedemikian rupa namun tak urung aku sedih juga !!

Apa mau dikata....kata hati tak pernah salah, harus bisa ,menerima bahwa apa yang terjadi adalah yang terbaik, dipandang dari sudut manapun semampumu, tetap itulah yang terbaik. Belajar ikhlas menerima termasuk belajar menerima kekecewaan hati sebagai hal yang tidak harus menjadi luka.


Friday, September 27, 2024

setelahnya

 setelahnya....masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan...

Monday, September 16, 2024

Bunda

Senin legi, Tanggal 16 September 2024 bertepatan dengan tanggal merah libur hari Maulid Nabi besar Muhammad saw, pagi sekitar pukul 5.30 atau setengah enam pagi bunda kami tercinta pergi untuk selama -lamanya...

aku bukan baru tahu pada pagi itu, karena sejak malam sudah instensif chat2 an dengan adik-adikku, aku tidak chat kakakku karena kupikir dia sedang dalam situasi sangat repot sebagai pemilik rumah dimana ibu tinggal saat itu, sehingga mungkin tidak pada posisi stand by dengan hp.

aku bangun pk 02.20 dini hari, membuka hp siapa tahu ada update kabar perkembangan ibu, ternyata tdk ada pesan masuk, aku lanjut ambil wudhu lalu sholat tahajut 2 rokaat, dan kirim alfatihah serta doa khusus untuk ibu, karena aku tidak tahu situasinya dan belum ada update beritanya, kumohon pada Allah agar diberikan yang terbaik untuk ibu...artinya aku ikhlas apapun berita yang akan kuterima adalah yang terbaik.

Pagi terus terun, sholat fajar, lanjut dua rakaat sesudah subuh, lanjut subuh berjamaah dengan paitua.

Rutinitas pagiku berjalan seperti biasa, setelah bikin teh untuk paitua, aku duduk periksa hp lagi, msh belum ada kbr apa2, namun kulihat adik bungsuku posisi online, langsung kutelpon. Tapi dia sedang ada di rumahnya yang berjarak kurang lebih setengsh jam perjalanan dengan kendaraan mobil/motor, dia pun belum dapat kabar lanjutan, tapi sedang siap2 menuju kesana selesai ngopi katanya...

waktu terus berjalan....aku bisa tersambung dengan adik kedua, dia kabarkan posisi semalam dimana bunda tampak tidak bisa tidur, berkali-kali bangun, jadi mereka yang menemanipun tak bisa tidur, sehingga pagi agak kurang segar kondisinya. dia mengabarkan bahwa ibu bangun dan duduk di tepi tempat tidur namun diam saja, komunikasi tidak terkoneksi, ini terjadi sejak kemaren. Kemudian sekitar setengah enam lewat adik kedua telpon mengabarkan bahwa ibu sudah tak ada respon !! Aku masih kurang yakin, berkali-kali minta kepastian.....akhirnya fixed ibu telah berpulang meninggalkan kita semua. Telp ditutup dan semuanya bergerak dengan kegalauan hati masing2.

aku merasa tugasku adalah tetap disini, menyiapkan kedatangan......dan ini diperkuat oleh adik laki-laki yang mengatakan agar aku tetap stay disini. Namun beberapa saat kemudian terdengar wacana bila akan dimakamkan disana, aku hanya diam tapi tak yakin, rasaku tidak mungkin, tetap harus dibawa ngetan dan dimakamkan disini, disamping bapak (alm), tapi kep[utusan final ada pada adik laki-laki, dan benar adanya, keputusan adikku sejalan dengan pikiran dan rasaku, aku bersyukur untuk itu.

Sambil menjahit pesanan  baju yang ordernya masuk sejak tadi malam pikiran langsung bergerak bagaimana membuat koordinasi dengan lokasi rumah dimana bunda akan disemayamkan. Aku belum fokus untuk apa yang harus dilakukan, lalu aku cek di WA group keluarga, adikku sudah memposting info tsb, lantas kucopy dan kulanjutkan sambil koordinasi dengan orang2 di sekitar rumah tinggal kami, yang dianggap bisa dipercaya menghandle lanjutan urusan ini.

Alhamdulillah, kerjasama yang baik terpantau dari wG keluarga, mereka bergerak cepat menyiapkan tenda, makanan dan menggali kubur. Terharu, trenyuh dan penuh syukur mereka semua ringan membantu dalam kerjasama yang mengagumkan.

setelah pekerjaanku selesai, kukemas dan siap dikirim sambil berangkat menuju kesan, anakku sudah jalan duluan dan aku menyusul di belakang tidak lama kemudian.....

Sampai disana, hingga sore adalah waktu paling sibuk dan paling padat berkomunikasi kesana kemari, menghandle situasi di lokasi, memantau mereka di perjalanan, menginformasikan perkembangan,dst...menerima tamu yang takziah....ya, aku adalah satu2nya anak ibu yang ada di lokasi dimana tamu2 berdatangan hingga hampir magrib. Karena estimasi tiba lepas magrib maka prosesi akan dilakukan sesudah magrib, para tamu yg akan pulang dipersilahkan, yang akan tinggal pun dipersilahkan. Lagi2 aku dan keluarga kecilku yang harus menjadi pihak keluarga yang menyampaikan  pengumuman itu.



Detik2 ambulance datang......disemayamkan sebentar dalam rumah, kemudian secepatnya berangkat ke pemakaman. sekurang-kurangnya 4 mobil ber iringan....mengantar ibu ke peristirahatan terakhirnya. Aku satu2nya anak ibu yang jauh dan tidak dapat menengok ibu di hari-hari akhirnya, sehingga ketika mendapat tawaran untuk melihat wajah ibu untuk terakhir kalinay, aku merasa tersanjung dan sangat berterimakasih, sekaligus aku menjadi saksi bahwa ini adalah ibuk. Allahuma sholialla Muhammad waala ali Muhammad, alfatihah. hanya itu yang dapat kulakukan pada durasi yang sangat singkat itu....

disini dulu catatan pertamaku. 

Innalilahi waainna ilahi rojiun,  husnul khotimah bundaku..., aamiin...

 



Sunday, September 15, 2024

tidak ada yang abadi


Hari minggu kemaren kami berkendara ke arah selatan, menuju pantai yang dulu aku kunjungi saat kkl di daerah sini, dan bila dibandingkan sekian puluh tahun yang lalu kini kondisinya sudah sangat berbeda.

saat perjalanan pulang terjebak macet sangat panjang, jalan yang lebar dan berkelok-kelok terasa penuh sesak dengan banyaknya bus-bus pariwisata dan mobil pribadi serta ramainya pengendara motor , memang kebetulan ini hari long week end, tapi hari-hari biasanya mungkin sebenarnya lancar-lancar saja, bisa jadi karena kebetulan sedang ada proyek pengerukan gunung kapur di sisi kiri kanan jalan menggunakan alat berat yang cukup banyak.

fokus pada yang tertangkap oleh kameraku adalah puing-puing bekas tembok rumah tinggal yang mungkin tergusur oleh proyek tersebut dengan latar belakang alat berat yang masih berada di atas bukit dengan jarah cukup dekat dari jalan raya.

aku melihat puing rumah dan sisa-sisa tembok yang bekum sepenuhnya dengan rata.....yang mungkin dulunya tentu saja dibangun dengan penuh cinta menjadi tempat bernaung dan hidup bertahun tahun lalu kini akan segera rata dengan tanah. waktu akan berlalu mengubur semua kenangan, kerja keras, dan cinta. tidak ada yang abadi.....
 

Friday, September 6, 2024

Pantai Baron setelah sekian puluh tahun lalu....

Pertama kali kesini sekian puluh tahun yang lalu, bersama rombongan Kuliah Kerja Lapangsn (Kkl) geografi sekitar tahun 1985-1986
Kondisinya belum seperti di foto ini, masih sangat sepi....belum terbangin sebagai kawasan wisata yang terkelola. 
Persisnya aku lupa dan juga tidak ada fotonya....
Hmmm.....ada rasa " Sesuatu" Ketika berkesempatan mengunjungi tempat yang telah begitu lama pernah singgah dalam memori perjalanan hidup.
Bahkan agak lama aku mengingat nama kampung/ desa yang dulu ksmi singgahi sebagai basecamp tidak jauh dari pantai ini. Di perjalansn setelah hampir sampai pantai tujuan aku melihat pspan jalan bertliskan "Tepus", ahaa....itulah desa yang dulu kami datangi....

Oh....waktu telah berlalu sekian lama rupanya....
..

Tuesday, July 16, 2024

ada & tiada

Seringkali kita selalu terjebak pada pemahaman bahwa kebahagiaan selalu berhubungan dengan sesuatu yang bersifat "keberlebihan", seperti misalnya ketika mendapatkan sesuatu, atau menemukan sesuatu, bertemu dengan seseorang,dsb, sementara semua yang bersifat "ketidak adaan" dianggap sebagai ketidakbahagiaan...
Tapi rumusan hidup tidaklah selalu demikian, karena dibalik ketidak adaan sesuatu dari yang tadinya ada, kalau kita mampu memaknainya ternyata di situ ada juga kebahagiaan .... sehingga ketidak-adaan sesuatu itu perlu juga untuk kita syukuri, karena Mensyukuri sebuah kehilangan, ternyata adalah menikmati adanya rasa nikmat...

Terlalu lama berada di zona yang menganggap bahwa memperoleh sesuatu adalah kesenangan dan kebahagiaan, maka selama itu pula kita akan selalu menganggap bahwa ketidakbahagiaan identik dengan kehilangan. Kita menjadi tidak pernah mencari makna tentang kehilangan, termasuk memahami mengapa ada istilah ada dan tiada, mengapa pula ada kata datang dan pergi, mengapa ada lahir dan mati, tentu semuanya itu menjadi ada bukan karena tidak ada maknanya.
Kebiasaan dengan pola pikir yang menterjemahkan kebahagiaan dengan memperoleh sesuatu menjadikan hidup bagaikan suatu "berburuan" dalam pengertian selalu memburu sesuatu, berlari untuk mengejar dan mencari sesuatu demi untuk meraih yang disebut bahagia...dan semua gerak kemudian diukur dengan perolehan. Ada yang perolehannya sedikit dan ada yang perolehannya banyak, dan yang perolehannya banyak kemudian dianggap akan menjadi lebih bahagia karena mendapat label keberhasilan atau "award" sukses yang lagi-lagi tentu sangat membahagiaan . Lalu... apakah yang tidak mendapat banyak perolehan dan tidak mendapatkan label sukses lantas tidak bahagia? tentu saja tidak!!
Bila kita mampu mencermatinya. Setiap orang punya caranya sendiri untuk berbahagia atau tidak, dan kebahagiaan mempunyai ukurannya sendiri-sendiri, tidak selalu harus disebabkan oleh suatu perolehan. So...jangan berkecil hati kalau perolehannya sedikit, karena mungkin itu hanya sebatas kemampuan kita dalam memandang saja, sebab kemampuan kita dalam melihat sesuatu juga sangat terbatas. Demikian juga kalau kehilangan sesuatu jangan serta merta menjadi tidak bahagia, karena sekiranya saja kita mampu memandang justru sesungguhnya itulah kebahagiaan yang sedang kita miliki.

Friday, June 14, 2024

Latepost

Berlibur tidak selalu harus diartikan dengan bepergian melancong ke luar kota ataupun tempat-tempat  wisata. Dengan hanya meluangkan waktu untuk melakukan hal apapun yang sedang ingin kita lakukan, sebenarnya cukuplah sekedar untuk merefresh diri meskipun tidak dengan bepergian kemana-mana...dannn....ini adalah me time paling tepat untuk mengekplore hobby.....happy weekend my beloved friends..... .# menghibur diri saat weekend gak kemana-mana#  :p

Friday, May 10, 2024

Membidik Pagi

Mengawali pagi dengan membidik pohon musimku dari balik jendela. Aku memperhatikannya dalam diam, daun-daunnya masih setia pada vibes warna musim gugur—belum sepenuhnya pergi, belum pula berganti. Seperti waktu yang sedang menahan napas, memberi jeda sebelum melangkah ke fase berikutnya.

Dari balik jendela ini, aku belajar menikmati jarak. Tidak harus berada di luar untuk bisa merasa dekat. Cukup memandang, cukup menyadari, cukup hadir. Pagi tidak menuntut apa-apa selain kesediaan untuk melihat dan merasakan.

Selamat pagi dari balik jendelaku—tempatku berdiri hari ini, menyapa dunia dengan tenang, tanpa tergesa, sambil membiarkan hidup berjalan pada musimnya sendiri.