Friday, November 8, 2024

Sehat itu mahal


Sehat itu mahal.

Kalimat itu dulu sering terdengar seperti nasihat klise, sampai akhirnya aku benar-benar merasakannya sendiri. Sekali datang ke UGD—hanya cek tensi dan obat—empat ratus ribu melayang. Pulang ke rumah, obat diminum, tapi tubuh belum juga memberi tanda membaik. Obat pun berhenti, bukan karena sembuh, tapi karena tak terasa dampaknya.

Dua hari kemudian aku kembali ke UGD. Kali ini lebih lengkap: tensi, cek darah, jantung, infus. Hasil laboratorium keluar, lalu datang rekomendasi yang membuat dada makin sesak—rawat inap, diperkirakan dua hari. Kamar yang tersedia kelas VVIP B, enam ratus lima puluh ribu per malam. Pelayanannya baik, sangat baik. Tapi sebagai pasien pribadi, tanpa asuransi, tanpa penanggung apa pun, satu hari satu malam saja sudah cukup membuat hati bergetar.

Dan benar saja.
Diputuskan keluar dengan status APS. Untuk dua puluh empat jam perawatan, enam juta rupiah harus dibayar. Angka yang terasa nyata, dingin, dan menohok—sekaligus mengajarkan banyak hal dalam waktu singkat.

Mau mengeluh? Rasanya basi.
Aku tahu betul pilihanku. Aku bukan penganut asuransi, dan memang tak ada siapa pun yang menanggung. Ini bukan tentang menyalahkan keadaan, juga bukan tentang menuntut siapa-siapa. Ini tentang menerima—bahwa sehat adalah nikmat yang sering diremehkan, sampai ia diambil sebentar saja.

Pada akhirnya aku hanya bisa bersandar pada satu hal:
semuanya karena Allah SWT.
Sehatkan aku, ya Rabb. 🙏