Aku tidak selalu memiliki pagi.
Dan mungkin karena itulah pagi menjadi begitu berharga bagiku.
Setiap kali aku bisa mencapainya, ada perasaan yang sulit dijelaskan: senang, bahagia, tenteram, dan diam-diam penuh harapan. Pagi ini aku memilikinya. Sejak selepas subuh hingga detik ini, dengan aman, kubuka pintu lebar-lebar. Udara masuk tanpa tergesa, cahaya merayap pelan, dan entah bagaimana aku merasa lebih dekat—lebih menyatu—dengan Allah.
Sebenarnya keinginanku sangat sederhana.
Hanya itu.
Namun kenyataannya, ia terasa begitu sulit diraih.
Ada masa-masa ketika aku merasa terkurung rapi. Bahkan untuk keluar pun harus ada pembatas—atas nama privasi, atas nama perlindungan, atas nama menjaga dari pandangan luar. Semua tampak wajar, masuk akal, bahkan niatnya baik. Tapi di saat yang sama, aku justru merasa kehilangan sesuatu yang paling kubutuhkan.
Aku rindu pandangan yang terang benderang.
Rindu ruang yang luas, jarak pandang yang panjang, seperti dulu-dulu. Kini terlalu banyak hal yang menghalangi—sebagian alami, sebagian sengaja dibuat. Katanya untuk melindungiku. Mungkin benar. Tapi di balik perlindungan itu, ada bagian dari diriku yang tetap ingin melihat jauh, bernapas lega, dan merasa utuh.
Dan pagi, ketika ia datang, menjadi satu-satunya celah.
Tempat aku bisa berdiri diam, membuka diri perlahan, dan bersyukur—karena untuk sesaat, aku masih diizinkan merasakan luasnya hidup, bersama Allah, tanpa sekat.