Aku bukan tipe orang yang suka swafoto. Bukan karena tak percaya diri, bukan pula karena menolak teknologi. Alasanku sederhana namun dalam: bagiku, mengabadikan momen tidak selalu berarti mengarahkan kamera ke wajah sendiri. Momen yang indah atau penting justru hidup pada detik ketika kejadian itu tertangkap oleh mata dan dirasa oleh hati—saat napas terasa lebih pelan, pikiran hening, dan perasaan hadir sepenuhnya. Pada saat seperti itu, aku memilih menjadi saksi, bukan subjek.
Aku lebih suka memotret objeknya: cahaya senja yang jatuh miring di antara pepohonan, riak air yang memantulkan langit, wajah orang-orang yang sedang tertawa tanpa sadar kamera, atau detail kecil yang sering luput—tekstur dinding tua, bayangan yang bergerak perlahan, garis awan yang tak pernah sama. Bukan karena aku ingin terlihat "berbeda", melainkan karena bagiku, keindahan itu berdiri sendiri. Ia tak membutuhkan kehadiranku di dalam bingkai untuk menjadi bermakna.
Selfi, dalam banyak situasi, terasa seperti pengalihan fokus. Dari momen ke representasi diri. Dari pengalaman ke pembuktian. Seolah-olah nilai sebuah kejadian baru sah bila ada bukti bahwa "aku ada di sana." Padahal, apa gunanya hadir jika perhatian kita terbelah antara layar dan kenyataan? Aku memilih tidak menjadikan wajahku sebagai penanda kehadiran, karena kehadiran yang sesungguhnya tak selalu perlu diumumkan.
Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika menatap langsung, tanpa perantara lensa. Mata bekerja lebih jujur; hati lebih peka. Saat itu, ingatan terbentuk bukan sebagai arsip visual semata, tetapi sebagai kesan emosional—hangat, tenang, atau takzim. Ingatan semacam ini sering lebih tahan lama daripada foto. Ia kembali hadir bukan saat kita menggulir galeri, melainkan saat aroma, suara, atau cahaya serupa muncul di kemudian hari.
Memotret pemandangan, bagiku, adalah bentuk penghormatan. Aku mengakui bahwa dunia lebih luas dari diriku sendiri. Ada keindahan yang tidak berpusat pada ego, yang layak direkam apa adanya. Kamera menjadi alat untuk mendengarkan, bukan untuk berbicara tentang diri. Dengan cara ini, fotografi menjadi latihan kerendahan hati: membiarkan objek menjadi tokoh utama, bukan aku.
Analisisnya sederhana namun penting. Budaya swafoto sering mendorong validasi eksternal—like, komentar, pengakuan. Tanpa disadari, ini bisa menggeser tujuan mengabadikan momen dari "mengalami" menjadi "menampilkan." Ketika dorongan tampil lebih kuat daripada dorongan hadir, kualitas pengalaman menurun. Kita sibuk mengatur sudut, ekspresi, dan pencahayaan, sementara detik berharga berlalu tanpa sempat dirasakan.
Selain itu, swafoto cenderung mereduksi makna tempat. Banyak lokasi akhirnya terlihat sama: wajah di depan latar. Identitas tempat kalah oleh identitas pribadi. Padahal setiap tempat memiliki cerita, tekstur, dan suasana yang unik. Dengan memotret objeknya—langitnya, jalannya, manusianya—kita memberi ruang bagi cerita itu untuk berbicara.
Ini bukan ajakan untuk membenci swafoto atau menghakimi mereka yang menyukainya. Setiap orang berhak memilih caranya sendiri. Namun mungkin ada baiknya kita bertanya: untuk siapa foto itu dibuat? Untuk dikenang, atau untuk ditonton? Untuk memperdalam pengalaman, atau untuk mempercepatnya lewat unggahan?
Mempengaruhi bukan berarti melarang, melainkan mengajak merenung. Cobalah sesekali meletakkan ponsel. Hadir sepenuhnya. Biarkan mata bekerja tanpa filter. Rasakan momen tanpa jeda. Jika ingin memotret, arahkan kamera ke apa yang membuatmu terdiam—bukan ke dirimu yang sedang berusaha terlihat "di sana." Karena sering kali, makna terbesar lahir ketika kita berhenti menempatkan diri di pusat bingkai.
Pada akhirnya, aku memilih cara ini bukan untuk terlihat sederhana atau anti arus, melainkan karena aku percaya: momen terbaik tidak selalu perlu diumumkan. Cukup disimpan rapi di ingatan, hangat di hati. Dunia tetap indah tanpa harus aku buktikan dengan wajahku di depannya.

